Make your own free website on Tripod.com

 

 

| Home | Profile | Article | Cerpen | Book | Puisi | Picture | Music | Collection | Journal |

 

 

CERPEN :

2002
Lelehan Di Legian
Oleh: Veldy Umbas

Pesan singkat yang masuk di ponselku jelas dan gamblang.
“Legian, Kuta.  Svenn sedang liburan di sana.”“Oh my God.”

Svenn? Aku tak bisa menyelesaikan makan pagi. Telor ceplok, roti panggang dan segelas susu kacang.  Tapi, dia bilang kalau Jogja adalah tempat liburan terbaik sejak kelahiran anaknya yang pertama. Tidak mungkin Bali.  Perbantahan kami tak pernah berakhir soal mana yang lebih baik, Jogja atau Bali. Walau kami sama-sama mengagumi Bunaken, tetap saja. Kedua tempat itu menjadi perdebatan. 
”Besok aku dapat cuti dari kantor. Sepertinya mereka ingin aku berada di luar Jakarta saat mereka memutuskan untuk mengakusisi perusahan enjection molding untuk memperkuat lini bisnis Polyethylene,”ungkap Svenn.
Begitulah dia bila sedang tidak bisa bersabar dengan lawan dialog, selalu saja menunjukkan sikap kekesalannya. Dia memang terkenal vokal, apa lagi soal rencana akusisi itu. Perusahan kemudian memutuskan untuk memberikan cuti  liburan  satu minggu kepadanya.
”Menurut kau, Parangtritis atau Lombok, atau Bunaken.”
”Scuba Dive. Memang tampaknya kau harus ke Bunaken.  Tapi, untuk refresh, Bali lebih tepat.”kataku.

Begitulah Svenn. Soal tempat wisata memang kami sering berbagi saran dan pengalaman.  Tentang pantai, Svenn adalah orangnya. Lahir dan besar di kota pantai, Auckland. Kelly Tarlton underwater world,  sehingga pantai dan laut adalah rumahnya.

Kami pernah berhitung-hitung tentang tempat-tempat wisata pantai yang terindah di dunia. Bagaimanapun, kami harus mengakui, Bali adalah salah satu tempat yang paling indah. Sejujurnya, kami terpikat pada rakyat dan tradisinya, bukan pada pantainya.
Hanya saja, kegiatan berlibur di pantai-pantai terindah di Indonesia, mulai jarang kami lakukan setelah dia menikah. Walau demikian,  selalu saja informasi wisata melalui email kami lakukan.  Satu kali dia menulis begini:

“Ben. Kau masih ingat ketika kita senja di Bentenan (salah satu obyek wisata di Sulawesi utara yang kebetulan kami kunjungi saat kunjungan kerja di PT Newmont Minahasa).  Kau bilang, menikah itu bagai membiarkan senja masuk ke peraduan,  lalu menanti mentari pagi di ufuk timur.  Saat itu kau tau bahwa kau telah menikah. Kini setelah setahun perkawinanku, matahari pagi tak kunjung datang.  Casey tak kunjung hamil. Kami berencana untuk melakukan test ke dokter.”

Setelah email itu. Tak ada kabar lagi.

Aku sempat ke Australia dua  kali, dan kembali lagi ke Jakarta. Sampai aku mendapat kabar bahwa Casey kini punya momongan. Itupun cuma  diberitahukannya lewat email katanya begini:
”Setelah lama menunggu cahaya mentari itu, kini aku benar-benar tersengat olehnya.  Aku punya penerus sekarang.  Svenn Horn junior. Aku telah menamakannya Lourette.  Bagaimana denganmu, Ben.  Kau tidak akan pernah merasa lengkap  tanpa penerusmu. Hidup kita Cuma sekali, dan kita tak akan tahu berapa lama kita masih bisa bernafas. Menikmati keindahan bawah laut Bentenan, dan Pasir putih di Lombok, pegunungan di Tangkuban, belum lengkap  tanpa pasangan hidup. Menikahlah Ben. Please… do that for me.”

 

Berkali-kali dia menyarankan supaya aku menikah.  Mungkin rasa bersalahnya karena melihat aku yang selalu kesepian dan kesendirianku.

Setelah email terakhirnya, dia tak sempat lagi memberi kabar. 

Dan  masih bersih ingatanku, waktu itu di Negara, Bali. Saya dan Svenn menyaksikan bagaimana mayat dibakar. Ada kengerian. Dan kegetiran menyelimuti kalbu saat onggokan daging itu meleleh dan  hangus  terbakar menjadi debu yang tak bernilainya. Waktu itu, kau bilang;

“Ben, kau lihat, beginilah akhir dari hidup.  Kita hanyalah debu.”

Entah apa yang telah disimpulkannya dari upacara pemakaman orang Bali yang bagi saya tampak  aneh.  Seperti  tak ada prosesi yang lebih beradab dari pada harus dibakar seperti itu.  Tapi tetap saja dia ingin berdebat soal itu denganku. Pendapatku, sesuai dengan agama yang saya anut, tentulah kalau memang ajal sudah tiba, saya ingin dimakamkan secara tradisi agama saya. Bukan dengan dipanggang seperti itu, katakuku dulu.

“Apa bedanya Ben.  Toh kau juga jadi debu.”  Bantahan dia seolah membenarkan konsep pembakaran mayat ala Bali.

Pesawat yang ku tumpangi sudah mendarat di bandara Ngurah Rai, Bali. Dan segera supir taksi  mengantarku ke RSUP Sanglah Denpasar. Sebelumnya, aku sempat melihat-lihat di lokasi kejadian peledakan di Padis dan Sari Club, Legian.  Betapa suatu pemandangan yang sangat mengerikan.  Dan berada di Rumah Sakit yang dipenuhi  oleh mayat-mayat yang terpanggang membuat jiwaku kalut.  Para penunggu berharap dapat mengidentifikasi korban yang ada.  Sementara, korban yang sempat selamat, berharap ada kontak dengan keluarganya.

Pesan singkat kembali masuk di  ponselku. “Sudah ada kabar?”
Sudah tiga hari tragedy naas itu  terjadi saat aku mengunjungi Bali, dan artinya, sebagian mayat sudah dikirim ke Australia sebagai permintaan Pemerintah Australia dengan alasan kebanyakan korban berkewarganegaraan Australia.
Kalau Svenn berada pada rombongan itu, berarti aku tak dapat memberitakan apapun pada Casey yang kantong air matanya sudah kering menangisi  nasib suaminya yang tak ada kabar sama sekali.
Casey memang sudah tinggal di Auckland  sejak kelahiran bayi pertama mereka, Lourette.  Dan tahun ini adalah tahun terakhir Svenn berada di Jakarta,  dia akan kembali ke Auckland bekerja di Underwater World Kelly Tarlton. Begitulah rencana mereka, seperti cita-cita Svenn yang pernah diutarakannya padaku saat kami berada di pantai Sanur, dua tahun lalu. Sunggu sangat idealis.
”Bapak keluarga korban?” Tanya salah seorang di samping saya menghentak lamunanku saat berada di ruang tunggu kamar jenazah RSUP Sanglah Denpasar. Wanita mudah, dengan pakaian hitam, di kedua telinganya terjulur anting sampai ke bahu.  Berparas cantik, namun wajahnya pucat seperti tak lagi ada aliran darah yang mengaliri tubuhnya.

“Iya. Sahabat  terbaik saya.  Mereka mengatakan dia ada di Bali sejak saat bom meledak di Legian. Dan memang sekarang tak ada kabar secuilpun tentang dia,”jelasku.

“Namanya siapa?”

“Svenn Horn. Asal Aucland New Zeland,”jawabku lirih. Menyebut namanya pun kini lidahku telah kaku.
Wanita muda ini lalu terdiam dan tak lagi bisa berkata-kata.  Matanya merah yang lambat laun berubah menjadi kristal-kristal cair yang mengalirkan kependihan. Wanita berparas asia yang menggunakan bahasa inggris  lancar itu tampak makin larut dalam duka.
”Seminggu yang lalu, saya bersama suami datang ke Bali untuk berlibur. Suami saya orang Australia, di Sandgate, Brisbane.” Dia menyeka air matanya lalu mencoba menenangkan dirinya. Kini dia mulai menggunakan bahasa Indonesia dengan lancar. 

Dari penjelasannya ku ketahui bahwa suaminya adalah korban kekejian Bom Legian. Padahal merka baru saja menikah. Dia adalah mahasiswa yang berkuliah di Brisbane, di University of Queenland sementara suaminya seorang pengusaha yang sering berkunjung ke Indonesia.

Liburan ke Bali ini merupakan liburan  honeymoon mereka untuk merayakan pernikahan mereka yang baru saja. Dia merasa sangat  bersalah karena dia berada di tempat yang berbeda malam itu. Hal ini terjadi karena dia harus mengunjungi temannya yang juga sama-sama kuliah di Australia. Saat itulah, kejadiaan naas itu terjadi dan menewaskan ratusan orang, termasuk Suaminya yang kebetulan berada di Sari Club. Lima belas menit setelah ledakan dia sudah berada di lokasi kejadian, hendak bertemu dengan suaminya.  Sayangnya, api sudah terlanjur membesar.  Teriakan histeris sayu terdengar beradu dengan letupan-letupan api.  Dari kejahuan, dia melihat beberapa orang yang terjebak di ruangan yang berdinding kaca tebal.  Seorang diantara mereka, adalah Willy, suami yang baru dinikahinya.  Hanya beberapa detik, api yang menjalar makin besar tak lagi menyisahkan celah pandang, kecuali suara letupan atas lelehan daging yang terpanggang.

Air matanya kembali membanjir, beberapa saat kemudian meredah lalu dia mulai lagi.

“Saya, berasal dari Sulawesi,”lanjut dia.

“Di pesawat, suami saya berkenalan dengan satu orang bule  yang  kemudian berbincang-bincang untuk melakukan join bisnis Agrikultur di Australia, tepatnya di Canberra.”

Dia berhenti sembentar dan membersihkan isi hidungnya yang penuh dengan cairan.

“Dari percakapan mereka, tampaknya mereka berencana untuk melakukan ekspor ke Indonesia. Untuk produk dari New Zeland akan ditangani oleh rekan bisnisnya itu. Dan suami saya akan mengerjakan urusan di Canberra.”

Dia kemudian berhenti. Sebentar, suaranya menjadi parau. Dengan kata-kata yang terbata-bata.  Rekan barunya itu adalah;
”Orangnya gemuk, tidak terlalu tinggi, rambut cokelat disisir ke samping. Senyumnya ramah, dan berkacamata minus tebal.”

Suarahnya hampir tak terdengar, bergulat menahan tangis yang makin tak terbendung. “Kalau itu orang yang anda cari, Svenn Horn, calon partner bisnis suami saya, baru saja mereka diberangkatkan oleh pesawat militer Australia.”

Suasana sontak menjadi hening. Membisu sejuta kata, karena tidak ada satu katapun yang mampu memaklumkan kami tentang kejadian itu. Sesekali terdengar isak sendu yang disuarakan dengan kian parau.  Akhirnya aku teringat ketika kami dulu di Bali, dan keyakinannya tentang mayat yang dibakar. Sayangnya, kau terpanggang hidup-hidup.
Bersamaan dengan itu, sms masuk lagi memecah kesunyian.

“Ben. Sudah ada kabar dari suamiku? Tolong Ben, pastikan dia  baik-baik saja.”

Aku kemudian larut dalam kesedihan yang dalam. 
”Dia sudah diberangkatkan  Casey…”

Untuk sahabat-sahabat yang terpanggang di Legian.