Si Tou Tumou Timou Tou

manguni.gif

Wacana

archives

forum

opinion

in-depth


Komunitas

Sosial

Sejarah

Agama

Tradisi

Other

Sastra:

Puisi/syair

Novel

Grap-grap

Script

References:

Sosial

Politik

Ekonomi

Budaya

Sejarah

Filsafat

Agama

Sastra

IPTEK

Internet
waruga.jpg

Home · Articles · Forums · Chat · About Us ·
cakalele2.jpg Ekplorasi ide-pemikiran Tou Minahasa dan keminahasaan kirim ke: nuwu@sulutlink.com
Minahasa adalah sel-sel global, fakta yang tak bisa ditampik. Ini tak sekadar cerita tapi berjalan atas tilikan sejarah dan representasi amanat 'roh' the founding fathers minahasa...

minahasa.gif


Journal Headlines:

Niakaran Cinta

Oleh : Veldy Umbas

Writer Sulutlink

Trompet Opas lantang berbunyi memecah kesunyian subuh, membangunkan para laki-laki kampung Kendoon untuk bersiap ke ladang. Seruan trompet pertama telah berbunyi sebelum kok ayam, membangunkan para anggota kelompok tani mapalus Kumeter. Bunyi yang kedua pertanda segera berkumpul, dan pada bunyi yang ketiga seluruh laki laki kampung yang ikut kumeter segera berangkat ke ladang.

Bagai ajakan maju ke medan perang, trompet itu menggemuruh menyeruhkan mars perang. Dan pagi itu, sekitar seratus orang pria kampung itu berbegas ke ladang untuk meyelesaikan amanat kumeter. Di bawah pengawasan Opas, kelompok mapalus Kumeter ini mencangkul ladang dengan sekuat tenaga dan biasanya harus diselesaikan dalam waktu 2 jam untuk ladang seluas satu hektar setiap satu sesi. Satu hari biasanya diselesaikan dalam 3 sesi. Sesi pertama pada subuh sebelum matahari terbit di ufuk timur, sesi kedua siang hari berakhir pada jam makan siang dan sesi ketiga pada sore hari.

Begitu setiap hari dan tiap sesi menjadi hak dari anggota kelompok mapalus kumeter yang digilir satu persatu. Yang sudah mendapat haknya berkewajiban membalas jasa orang yang sudah datang pada saat sesinya diambil. Seterusnya sampai semua mendapat giliran, biasanya berakhir dalam satu bulan.

Diantara mereka itu, terdapatlah seorang pemuda tanggung, anak juru tulis kampung, Om Ender yang kesahariannya bekerja di balai desa melayani orang-orang kampung yang membutuhkan surat-surat keterangan yang harus ditanda-tangani oleh Kuntua (hukum tua atau Kepala Desa).

Nah, tentang pemuda itu, namanya Endong. Baru saja menyelesaikan sekolah menengah umumnya di kota kecamatan, hampir 20 kilo dari kampunya. Impian orang tuanya tentu agar dia tidak sekedar sekolah tapi juga bisa merubah keadaan keluargannya yang terperangkap dalam kondisi ekonomi yang sangat menyulitkan. Dulu waktu masih sekolah, dia pernah bercita-cita jadi Polisi, memang wajar bila dilihat dari postur tubuhnya yang tinggi lagi besar. Dia juga tidak suka minum dan merokok, tentu ini menjadi modal dasar untuk bisa berkarir di kepolisian sekalian berbakti kepada bangsa dan negara.

Sayang, orang tuanya tidak punya cukup modal. Konon untuk jadi Polisi, dia harus meyiapkan paling tidak sekitar delapan juta rupiah untuk biaya administrasi. Dan itu pasti musykhil bin mustahil. Setelah cita -citanya pupus, Endong tampak lebih banyak lawer dan malah mulai sering nongkrong di perempatan jalan.

Makanya ketika Endong mulai ikut Kumeter, Tanta Rice, Ibunya Endong tampak agak gembira walau tetap meyesali nasib anaknya yang bakal tidak jauh dengan bapaknya yang cuma tamat SR (sekolah Rayat).

Keseriusan Endong ikut kelompok Mapalus Kumeter ternyata bukan tak berdasar. Semuanya adalah karena si Wyandok. Gadis desa yang masih duduk di bangku kelas satu SMU yang dipacari sudah sejak 2 bulan terakhir ini. Alhasil, dia bertekad menikahi Wyandok dan segera membentuk keluarga bila dia sudah bisa mengumpulkan sejumlah uang. Satu juta rupiah, dipikirnya cukup untuk kawin larinya. Sangat terprogram dibenaknya, dia akan membawa lari Wyandok yang sudah dicintai setengah mati itu.

Keputusan itu tentu diambil setelah disadarinya usia Wyandok yang masih muda tentu tidak bakal diijinkan oleh orang tuanya untuk menikah, juga sama seperti ayahnya yang terus bercita-cita agar dirinya menjadi Polisi. "Itu gila. Polisi sama saja dengan tikus-tikus got. Pencuri tak ada bedanya,"umpatnya kesal.

Sementara mengawini Wyandok sudah bulat dan tidak dapat dielak lagi. "Biar pele kwala. Nyaku tetap mo kaweng deng Wyandok,"ujarnya pede. Kalkulasi demi kalkulasi telah dipikirkannya, dan dia tau lewat ikut mapalus Kumeter dia bisa mendapakan uang yang dibutuhkan. Satu bulan jatah kumeter dapat dia jual pada pemilik ladang yang memerlukan tenaga untuk mencangkul kebunnya seharga 200 ribu. Lima bulan kemudian, otomatis satu juta rupiah sudah cukup untuk acara sederhana di rumah makang Gusnar, di Kapitu, lalu persiapan biaya kos di kota Manado. Uang yang sisa akan digunakan untuk urus SIM mobil dan coba menjadi sopir mikrolet.

Tak heran memang Endong kini sangat rajin. Dan hati sang kekasih, Wyandok tentu sangat senang melihat usaha Si Tuama Leos, yang berjuang mati-matian untuk masa depan mereka. Jadi bila subuh datang, Wyandok sudah bangun bersamaan dengan bunyi trompet Opas yang mengajak anggota Kumeter segera bersiap. Bila trompet itu berbunyi, dia tahu bahwa sang Pangeran pujaan hatinya sudah bangun dan bersiap ke ladang.

Belakangan ini memang hubungan mereka agak dibatasi, tidak seperti kemarin-kemarin, mereka sering bertemu gelap-gelapan di belakang sekolah SD Impres di ujung kampung. Endong menyarankan untuk tidak bertemu dulu sambil dia berusaha mencari modal. Sementera ibu Wyandok bukan tidak tau semua gejalah anaknya. Sekali ketika ketahuan anaknya yang boleh dibilang masih ingusan itu pacaran dengan Endong, ibunya langsung marah besar dan membentak Wyandok dengan kasar. "Ngana masih anak kacili. Enter makang masih mo sua akang, so batunangan. Kong batunangan deng tu juru tulis pe anak le, enter loyor busu yang so jadi tarapu, dia pe keluarga ndak mampu mo kase turuk pa ngana. Mo jadi apa ngana Wyandok,"kecam tanta Intang pada Wyandok diikuti dengan tamparan yang susul menyusul. Sedari itu, Wyandok agak hati-hati. Pertemuan dengan Endong cuma dilakukan dalam keadaan terdesak, dan cuma beberapa menit saja, semisal di warung lalu saling berkirim surat yang biasanya diselipkan di pagar depan rumah Wyandok. Jadi, acara kangen-kangenan lebih banyak dalam bentuk hubungan emosional mirip telepati.

Dan bagi Wyandok, mendengar suara trompet, hatinya menjadi berbunga-bunga. Seolah-olah suara itu lantang mengumumkan kepada dunia bahwa pacarnya, Endong sangat mencintai, dan saatnya nanti mereka akan bersatu dalam hubungan suami istri.

Keadaan ini sangat dinikmatinya, dan biasanya Wyandok mengasingkan diri di pinggir telaga, belakang rumahnya untuk menikmati keindahan sejuknya cuaca dingin bersama embun pagi yang jatuh dari daun ke telaga menjadi irama yang sedap ditelinga seolah membisikan makna cinta yang tak terlukiskan.

Sembari menantikan mentari terbit di timur, Wyandok berdoa agar matahari kebahagian bisa terbit dalam hubungan cinta mereka. Dan pagi itu tepat bulan ke empat sejak janji Endong pada dirinya. Sebulan lagi, impian akan menjadi kenyataan. Sementara Endong. Dia selalu bertenaga. Kuat. Dan tak kenal lelah. Dibenaknya, Wyandok selalu berdoa untuknya. Dia tau bila trompet berbunyi Wyandok ada disamping kolam belakang rumahnya dan memohon doa pada Amang kasuruan untuk memberi kekuatan dan semangat.

Setiap doa Wyandok seolah terdengar jelas di telinga Endong. Hari ini tepat giliran Endong yang ke empat kali mendapatkan hak dari Mapalus Kumeter. Tinggal sekali lagi kumeter aku sudah memperistri Wyandok, Pikir Endong.

Pagi itu, matahari sudah beranjak dari peraduan untuk memberi kecerahan bagi merekea yang senantiasa membutuhkan pencerahan. Sesinya sudah selesai dan beristirahan untuk Smokol pagi yang dihidangkan oleh pemilik kebun.

Tapi pagi itu, Erengs sahabat Endong muncul di kebun tempat mereka bekerja. Dengan nafas terengah dan kalimat yang teputus putus, Erengs membawa kabar pahit. "Wyandok tal lesem di talaga." Begitu kabar buruk yang disampaikannya. Kalimat yang sekaligus bagai gemuru petir yang menyambar dasyat, memporak porandakan langit impian, menruntuhkan pilar-pilar cinta, ambruk dan menghujam mengahantam dasar nurani dan babin Endong.

Endong pingsang tak sadarkan diri. Jiwanya berkelana meninggalkan onggokan daging yang penat dan fana. Terbang dalam kebebasan jiwa, menari-nari bebas di alam keindahan semu. Dalam kealpaan raga, Endang bertemu Wyandok. "Sayang. Kyapa Nikow kase tinggal Nyaku. Nyaku ini ada berusaha untuk masa depan kitorang dua."tanya Endong

"Oh Endong pujaan hati. Nikou tau, Nyaku pe batin tersiksa tiap kali ba dengar tu trompet kumeter babunyi Nyaku tau , Nikou ini mo pi kerja berat, banting tulang keringat darah cuma for nyaku. Nyaku tau, Nikou ba pacol mungkin stou tu Opas so cambok-cambok pa Nikou lantaran Nikou so lala kong ba plang," suara Wyandok indah terdengar kemayu di gendang telinga Endong.

"Mar sayang, Nikou tau nyaku tinggal satu kali dapa bagian kong nyaku somo kaweng dengan Nikou." "Oh Endong sayang, Nyaku tau itu. Mar nyaku pe puru so lima bulang ba isi. Satu bulang lei so nimbole kase sambunyi. Nyaku masi kecil. Nyaku malo pa guru-guru di skola. Nyaku pe temang temang, apalagi nyaku pe Papa majelis di gereja. Jadi nyaku langsung ba tobo bodok di talaga belakang rumah. Yang penting nyaku tau cinta kita abadi. Nyaku cinta nikou Endong."

Wyandok langsung menghilang, menembus batas waktu dan ruang. Endong tatigo. Om Engel ada kase minum aer kalapa muda, kong langsung sadar. Endong cuma ba suara: "Nyaku cinta Nikou Wyandok." Sambil air mata mengalir dengan derasnya. ***

Kosa kata: Niakadan:Batas. Ujung dari sesuatu Mapalus=kerja-sama mirip gotong royong. Disin maksudnya; ada hak dan kewajiban.. Kumeter=Sekuat tenaga. Disini maksudnya; kelompok orang yang mapalus, mencangkul di kebun sampai kebun itu bersih dan diawasi oleh satu orang Opas yang membawa cambuk untuk mendisiplin anggota yang malas. Biasanya dimulai pada subuh, sebelum matahari terbit pukul 05.30

Opas=Mandor yang bertugas mendisiplin anggota mapalus Kumeter sambil membawa cambuk. Kepadanya diberi kuasa memukul.
Lawer=ungkapan untuk mereka yang nganggur. Sifatnya malas.
Si Tuama Leos=laki laki baik-baik.
Smokol=Sarapan pagi
Tallesem=Tenggelam

Make your own free website on Tripod.com